Sabtu, 31 Januari 2015

Rangkaian Common Emitter

Rangkaian Common Emitter adalah rangkaian Bipolar Junction Transistor yang menggunakan terminal Emitter sebagai terminal bersama yang terhubung ke Ground, sedangkan terminal masukan dan keluarannya masing-masing terletak pada terminal Basis dan terminal Collector.
Rangkaian penguat Common Emitter adalah rangkaian yang paling banyak digunakan karena memiliki sifat menguatkan tegangan puncak amplitude dari sinyal masukkan. Factor penguatan dari Transistor dilambangkan dengan simbol beta (β). Rangkaian Common Emitter dapat dibagi menjadi rangkaian Fixed Bias, Voltage Divider Bias, dan Emitter Bias.

Karakteristik Penguat Common Emitter
·         Sinyal outputnya berbalik fasa 180 derajat terhadap sinyal input.
·         Sangat mungkin terjadi osilasi karena adanya umpan balik positif, sehingga sering dipasang umpan balik negatif untuk mencegahnya.
·         Sering dipakai pada penguat frekuensi rendah (terutama pada sinyal audio).
·         Mempunyai stabilitas penguatan yang rendah karena bergantung pada kestabilan suhu dan bias transistor.
·         Memiliki resistansi input (Ri) dan resistansi output (Ro) yang besar, dan penguatannya cukup besar tetapi berbeda fasa sebesar π.
·         Berfungsi sebagai penguat tegangan, VO>VI  , VO menjadi lebih besar karena melawan turunnya VOoleh arus beban sehingga keluaran VO tetap.

·         Arus masukan (Ii) dan arus keluaran (IO) memiliki arus yang disebut dengan β. β= α1-α dan β=ICIB,  α=ICIE.

Transistor UJT

 I.            Transistor UJT (UniJunction Transistor)
            Unijunction transistor merupakan sebuah komponen elektronik semi konduktor yang hanya mempunyai satu pertemuan.
UniJunction Transistor mempunyai tiga saluran, sebuah emitor (E) dan dua basis (B1 dan B2). Basis dibentuk oleh batang silikon tipe-n yang terkotori ringan. Dua sambungan ohmik B1 dan B2 ditambahkan pada kedua ujung batang silikon. Resistansi di antara B1 dan B2 ketika emitor dalam keadaan rangkaian terbuka dinamakan resistensi antarbasis (interbase resistance).

Ada dua tipe dari transistor pertemuan tunggal, yaitu:

Transistor pertemuan tunggal dasar, atau UJT, adalah sebuah peranti sederhana yang pada dasarnya adalah sebuah batangan semikonduktor tipe-n yang ditambahkan difusi bahan tipe-p di suatu tempat sepanjang batangan, menentukan parameter ɳ dari peranti. Peranti 2N2646 adalah versi yang paling sering digunakan.

Transistor pertemuan tunggal dapat diprogram, atau (Programmable Unijunction Transistor) PUT, sebenarnya adalah saudara dekat tiristor. Seperti tiristor, ini terbentuk dari empat lapisan P-N dan mempunyai sebuah anode dan sebuah katode yang tersambung ke lapisan pertama dan lapisan terakhir, dan sebuah gerbang yang disambungkan ke salah satu lapisan tengah. Penggunaan PUT tidak dapat secara langsung dipertukarkan dengan penggunaan UJT, tetapi menunjukkan fungsi yang mirip. Pada konfigurasi sirkuit konvensional, digunakan dua resistor pemrogram untuk mengeset parameter ɳ dari PUT, pada konfigurasi ini, UJT berlaku seperti UJT konvensional. Peranti 2N6027 adalah contoh dari peranti ini.

Cara kerja UniJunction Transistor yaitu UJT dipanjar dengan tegangan positif di antara kedua basis. Ini menyebabkan penurunan tegangan disepanjang peranti. Ketika tegangan emitor dinaikkan kira-kira 0,7V diatas tegangan difusi P (emitor), arus mulai mengalir dari emitor ke daerah basis. Karena daerah basis disupply sangat ringan, arus tambahan (sebenarnya muatan pada daerah basis) menyebabkan modulasi konduktifitas yang mengurangi resistansi basis di antara pertemuan emitor dan saluran B2. Pengurangan resistansi berarti pertemuan emitor lebih dipanjar maju, dan bahkan ketika lebih banyak arus diinjeksikam. Secara keseluruhan, efeknya adalah resistansi negatif pada saluran emitor. Inilah alasan mengapa UJT sangat berguna, terutama untuk sirkuit osilator sederhana.
         
Penggunaan UniJunction Transistor yaitu pada osilator relaksasi, selain penggunaan pada osilator relaksasi, penggunaan UJT dan PUT yang paling penting adalah untuk menyulut tiristor (seperti SCR, TRIAC, dll). Faktanya, tegangan DC dapat digunakan untuk mengendalikan sirkuit UJT dan PUT karena waktu hidup peranti meningkat sesuai dengan peningkatan tegangan kendali DC. Penggunaan ini penting untuk pengendalian AC arus tinggi.

Salah satu contoh Aplikasi Unipolar Junction Transistor adalah sebagai Osilator Relaksasi. Osilator Relaksasi adalah Osilator dimana kondensator diisi sedikit demi sedikit dan lalu dikosongkan dengan cepat.

Contoh Rangkaian Oscilator Relaksasi Dengan UJT
Dari contoh rangkaian oscilator relaksasi diatas rangkaian RC terdiri atas R1 dan C1 . Titik sambungan rangkaian RC dihubungkan dengan emitor dari UJT. UJT tidak akan berkonduksi sampai pada harga tegangan tertentu yang dicapai pada pengisian kapasitor. Saat terjadi konduksi sambungan E-B1 menjadi beresistansi rendah. Ini memberikan proses pengosongan C dengan resistansi rendah. Arus hanya mengalir lewat R3 saat UJT berkonduksi. Pada rangkaian ini sebagai R3 adalah speaker.

Pada saat pertama kali diberi catu daya, osilator UJT dalam kondisi tidak berkonduksi sehingga titik sambungan RC  E- B1 mendapat bias mundur. Dalam waktu singkat muatan pada C1 akan terpenuhi (dalam hal ini ukuran waktu adalah R*C ). Dengan termuatinya C1 akan menyebabkan sambungan E- B1 menjadi konduktif atau memiliki resistansi rendah. Selanjutnya terjadi pengosoangan C1 lewat sambungan E- B1 yang memiliki resistansi rendah. Ini akan menghilangkan bias maju pada emitor. UJT selanjutnya menjadi tidak berkonduksi dan C1 mulai terisi kembali melalui R1 dan proses ini secara kontinu akan berulang.

Osilator UJT dipakai untuk aplikasi yang memerlukan tegangan dengan waktu kenaikan (rise time) lambat dan waktu jatuh (fall time) cepat. Sambungan E- B1 dari UJT memiliki keluaran tipe ini. Antara B1 dan “ground” pada UJT menghasilkan pulsa yang tajam (spike pulse). Keluaran tipe ini biasanya digunakan untuk rangkaian pengatur waktu dan rangkaian penghitung. Sebagai kesimpulan osilator UJT sangat stabil dan akurat untuk konstanta waktu satu atau lebih rendah.

Transistor & Karakteristiknya

Transistor
 I.            Pengertian
            Transistor adalah komponen elektronika semikonduktor yang memiliki tiga kaki elektroda, yaitu Basis (Dasar), Kolektor (Pengumpul) dan Emitor (Pemancar). Dengan ketiga elektroda (terminal) tersebut, tegangan atau arus yang dipasang di satu terminalnya mengatur arus yang lebih besar yang melalui 2 terminal lainnya.
            Pengertian transistor berasal dari perpaduan dua kata, yakni “transfer” yang artinya pemindahan dan “resistor” yang berarti penghambat. Dengan demikian transistor dapat diartikan sebagai suatu pemindahan atau peralihan bahan setengah penghantar menjadi penghantar pada suhu atau keadaan tertentu.
            Fungsi Transistor adalah sebagai berikut :
·         Sebagai sebuah penguat (amplifier).
·         Sirkuit pemutus dan penyambung (switching).
·         Stabilisasi tegangan (stabilisator).
·         Sebagai perata arus.
·         Menahan sebagian arus.
·         Menguatkan arus.
·         Membangkitkan frekuensi rendah maupun tinggi.
·         Modulasi sinyal dan berbagai fungsi lainnya.


II.            Kurva Karakteristik Transistor
Kurva karakteristik kolektor merelasikan IC dan VCE dengan IB sebagai parameter. Parameter-parameter transistor tidaklah konstan, meskipun tipe sama namun parameter dapat berbeda. Kurva kolektor terbagi menjadi tiga daerah yaitu jenuh, aktif dan cut- off. 
Daerah jenuh (saturasi) adalah daerah dengan VCE kurang dari tegangan lutut (knee) VK. Daerah jenuh terjadi bila sambungan emiter dan sambungan basis berprasikap maju. Pada daerah jenuh arus kolektor tidak bergantung pada nilai IB. Tegangan jenuh kolektor – emiter, VCE(sat) untuk transistor silikon adalah 0,2 volt sedangkan untuk transistor germanium adalah 0,1 volt.
Daerah aktif adalah antara tegangan lutut VK dan tegangan dadal (break down) VBR serta di atas IBICO. Daerah aktif terjadi bila sambungan emiter diberi prasikap maju dan sambungan kolektor diberi prasikap balik. Pada daerah aktif arus kolektor sebanding dengan arus balik. Penguatan sinyal masukan menjadi sinyal keluaran terjadi pada saat aktif.

Daerah cut-off (putus) terletak dibawah IB = ICO. Sambungan emiter dan sambungan kolektor berprasikap balik. Pada daerah ini IE = 0 ; IC = ICO = IB.

Senin, 15 Desember 2014

Proses Pembuatan Pisau

Pisau selalu kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari, paling mudahnya, pisau kita butuhkan pada saat memasak untuk mengolah bahan bahan makanan. Bagaimana kah proses pembuatan pisau itu sendiri? Simak video berikut :

Tahap awal tentunya adalah mencari bahan untuk pisau itu sendiri, pada video tersebut bahan yang digunakan adalah semacam cakram (plow disc). Selanjutnya membuat bentuk yang diinginkan, desain dari pisau yang anda inginkan.
Setelah anda dapat desain yang sesuai, sebaiknya jangan ada sisi-sisi tegak-lurus, untuk menghindari terjadinya cracking/patah pada saat bilah masuk kedalam tungku (proses heat treatment).

Ada empat terminologi penting dalam heat treatment:

- Normalizing
Memanaskan baja sampai tahap kritikal (bisa diketahui dengan menempelkan magnet pada baja panas tersebut sampai magnet tidak menempel). Biasanya kemudian dilewatkan sedikit dengan kembali memasukkan baja tersebut ke dalam tungku sampai 10 detik, lalu baja dibiarkan mendingin sendiri sampai sama dengan suhu ruang.

- Annealing
Memanaskan baja sampai tahap kritikal (bisa diketahui dengan menempelkan magnet pada baja panas tersebut sampai magnet tidak menempel). Baja kembali dimasukkan ke dalam tungku, matikan tungku dan biarkan pisau di dalamnya sampai keesokan hari. Baja dalam keadaan ter-aneal akan lebih empuk dibanding kondisi ter-normalisasi.

- Hardening
Adalah proses mengeraskan baja dengan mencelupkannya ke dalam cairan pendingin semisal minyak atau air. Proses dilakukan dengan kembali memanaskan baja sampai ke tahap kritikal kemudian dengan cepat memasukkannya ke dalam cairan pendinginnya untuk membuat baja mengeras. Baja akan mencapai kekerasan maksimal setelah melalui proses ini, namun terlalu keras untuk bisa berguna sebagai pisau yang baik.

- Tempering
Adalah proses menurunkan sedikit kadar kekerasan pisau untuk mencapai kekerasan yang berguna dan menambahkan toughness kepada pisau tersebut. Proses ini dimulai dengan memanaskan pisau pada suhu sekitar 200 derajat celcius selama 2 jam, dan dillakukan selama minimal 2 kali. Tiga kali lebih bagus.

Setelah menggambar desain kasar kedalam cakram, lalu potong, dapat menggunaka gergaji besi ataupun alat lainnya. Tahap selanjutnya adalah menghilangkan bagian-bagian karat, dengan amplas (belt grinder,dsb), agar pada proses heat treatment dapat berjalan dengan sempurna. Heat treatment sendiri adalah proses dimana baja diubah sedemikian sehingga mencapai titik kekerasan yang diinginkan. Biasanya pisau diinginkan dalam keadaan/tingkat kekerasan berkisar 60Hrc. Proses-proses heattreatment dapat dilihat dipenjabaran diatas.

Pada video tersebut baja cakram tersebut dipanaskan untuk memudahkan pembentukan, selanjutnya langsung diperlihatkan pisau yang sudah mulai terlihat bentuknya. Pada tahap ini, pisau sudah melewati normalizing, dan sudah annealing. Pada tahap ini pisau akan lebih mudah dikerjakan, bagian-bagian kecilnya mulai bisa dikerjakan. Karena cakram tersebut pada awalnya sudah dalam keadaan keras atau sudah mengalami hardening. Bila dilakukan penggeboran untuk pin pada pisau, dapat merusak mata bor, dan susah dalam pembentukan bevel/mata pisau. Maka dari itu perlu dilakukan pelunakan/annealing.

Seperti pada video, setelah baja pisau lunak, dilakukan penggeboran untuk pin handle(pegangan pisau) pembentukan bentuk pisau dengan belt grinder. Dan pembuatan bevel/mata pisau sesuai keinginan.

Setelah proses-proses tersebut terlewati, yang dilakukan selanjutnya adalah hardening, yaitu memanaskan bilah sampai pada titik kritikal (sekitar 700an celcius, warna baja kuning terang). Setelah itu bilah dicelupkan kedalam cairan (air, oli,dsb) sehingga bilah dalam tingkat kekerasan maksimum. Pada saat ini bilah biasanya getas/mudah patah. Maka diperlukan tempering, yaitu penurunan kekerasan bilah. Pada video tempering dilakukan dengan memanaskan bilah pada suhu 550celcius selama satu jam, lalu diamkan hingga dingin sesuai suhu ruangan dengan sendirinya.

Setelah proses tempering selesai, bilah pisau sudah siap untuk digunakan, proses selanjutnya adalah mengamplas bilah pisau tersebut hingga tajam/polishing serta memasang handle pada bilah.

Sumber
https://www.youtube.com/watch?v=QpXeufq7-ko
http://archive.kaskus.co.id/thread/3698710/








Tips dan Cara Merawat Pisau

1. Cari tempat untuk menaruh pisau
Tempat yangg cocok untuk menaruh pisau kesayangan tentunya adalah kotak pisau. Kotak pisau adalah tempat yang benar untuk menyimpan pisau, karena kotak pisau memenuhi beberapa mutu : keamanan, perlindungan, kebersihan, dan kenyamanan.

2. Bersihkan pisau setelah penggunaan
Cara terbaik untuk mempertahankan ketajaman dan kilau dari pisau dengan mencuci dengan tangan. Secepatnya setelah di pakai pisau di cuci dengan air hangat yang mengalir dengan sedikit sabun, lalu dengan hati-hati dikeringkan dengan cara di lap.

3. Menjaga pisau selalu kering
Sebagai contoh apabila kita mempunyai pisau yang terbuat dari baja karbon. Pisau tersebut tetap akan mengalami karat. Maka disarankan untuk memberikan minyak yang aman untuk makanan ke mata pisau setelah di cuci atau di pakai.

4. Merawat ketajaman pisau
Pisau yang tajam lebih aman untuk di gunakan dibandingkan dengan pisau yang tumpul, karena anda menggunakan tenaga yang lebih sedikit. Tangan anda tidak cepat lelah dan pisau mempunyai "gigitan" yang lebih baik ke bahan makanan. Pisau yang bermutu akan tahan tajamnya untuk waktu yg lama, tapi walaupun pisau yang sangat baik dapat kehilangan ketajamannya dalam jangka waktu tertentu. Untuk mendapatkan ketajaman yang maksimal kembali, semua mata pisau yang tidak bergelombang harus secara regular di tajamkan dengan pengasah pisau berbentuk pedang, batu pengasah atau pengasah pisau lain nya.

5. Papan potong atau talenan
Pemilihan talenan yang baik akan memperpanjang ketajaman pisau anda. Pemilihan papan potong atau talenan dari bahan gelas atau keramik hanya akan membuat mata pisau anda menjadi rusak dan bergelombang. Di sarankan untuk menggunakan papan potong atau talenan dari bahan plastik atau kayu. Karena kayu atau plastik memiliki efek yangg merusak pisau anda lebih kecil dari pada bahan yang lain.

Sumber : Tokolariskarawang.blogspot.com

Baja dan Bahan-Bahan Lain Yang Umum Digunakan Sebagai Bilah Pisau

BAJA
Baja adalah logam paduan dengan kandungan utamanya adalah besi yang di padu dengan unsur karbon. Untuk bisa disebut baja, kandungan karbon tidak boleh kurang dari 0.2 - 0.25% dan tidak lebih dari 2.1 - 3%. Bila kandungan karbon kurang dari 0.2 - 0.25%, logam ini tidak bisa di harden (diperkeras dengan proses hardening/nyipuh), dan disebut wrought iron. Bila kandungan karbon lebih dari 2.1 - 3% logam ini akan menjadi getas (gampang patah), dan disebut cast iron(besi cor).

Aturan mengenai kandungan karbon diatas; dalam beberapa tahun terakhir telah tidak sesuai lagi. Beberapa tahun terakhir beberapa pabrik baja telah menemukan baja jenis baru sebagai contoh: baja H1 yang digunakan oleh beberapa perusahan pisau kandungan karbonnya adalah 0.15% (sebagian besar orang masih tidak menganggap H1 sebagai baja/steel, karena H1 dengan kandungan karbon serendah ini tidak bisa di harden). Begitu juga kandungan karbon dari baja ZDP189 yang 3.0%. CPM Rex 121 yang mempunyai kandungan karbon 3.4%.

* Satu hal yang harus diingat. Baja apapun yang digunakan sebuah pisau, yang paling penting adalah Proses Heat Treatment-nya (HT) (dari hardening sampai tempering). Sebagai contoh baja dengan bahan baja D2 yang tidak melalui proses HT atau tidak melalui proses HT yang benar akan menjadi kalah jauh kemampuannya dibanding baja D2 dengan HT yang benar.

UNSUR/KANDUNGAN DALAM BAJA
Sederhananya, baja adalah besi dengan kandungan karbon di dalamnya. Campuran lainnya ditambahkan untuk membuat baja untuk mempunyai kemampuan yang lebih.
Berikut adalah campuran penting dalam baja (termasuk karbon)sesuai urutan abjad, dan beberapa contoh baja yang berisi paduan tersebut:

Karbon: Hadir dalam semua baja, itu adalah unsur yang paling penting untuk proses hardening/pengerasan, juga meningkatkan kekuatan baja tetapi, semakin banyak kandungannya, ketangguhan baja akan semakin berkurang dan membuat getas/gampang patah. 

Kromium: Ditambahkan untuk ketahanan aus, membantu proses hardening, dan (yang paling penting) untuk ketahanan karat. Sebuah baja dengan setidaknya 13% kromium biasanya dianggap baja tahan karat/stainless steel, meskipun definisi lain mengatakan baja harus memiliki minimal 11,5% kromium lepas (sebagai lawan yang diikat di karbida) dianggap "stainless". Meskipun namanya stainless steel, semua jenis baja ini dapat berkarat jika tidak dipelihara dengan baik. Menambahkan kromium dalam jumlah tinggi mengurangi ketangguhan. Kromium adalah karbida-mantan, yang karena itu meningkatkan ketahanan aus.

Mangan: Sebuah elemen penting. Mangan membantu memperbaiki struktur butir baja, dan memberikan kontribusi untuk proses pengerasan/hardening. Juga kekuatan & ketahanan aus. Meningkatkan kemampuan baja melawan proses oksidasi selama proses pembuatan baja. Hadir dalam hampir semua baja pisau kecuali untuk A2, L-6, dan CPM 420V.

Molibdenum: pembuat struktur karbida, mencegah kerapuhan & mempertahankan kekuatan baja pada suhu tinggi. Hadir dalam banyak baja, terutama pada baja yang mengeras dengan udara (misalnya, A2, ATS-34) selalu memiliki 1% atau lebih molibdenum - molibdenum adalah apa yang memberi mereka kemampuan baja mengeras di udara.

Nikel: Menambahkan ketangguhan. Hadir dalam L-6 dan AUS-6 dan AUS-8. Nikel secara luas diyakini memainkan peran dalam ketahanan karat juga.

Fosfor: Hadir dalam jumlah kecil di sebagian besar baja, fosfor adalah salah satu unsur yang mengurangi ketangguhan.

Silicon: Berkontribusi pada kekuatan. Seperti mangan, unsur ini memperbaiki struktur baja.

Sulfur/Belerang:
 Biasanya tidak diinginkan di sendok garpu baja, membuat baja mudah dibentuk, namun menurunkan ketangguhan.

Tungsten: Juga merupakan pembuat struktur karbida, sehingga meningkatkan ketahanan aus. Ketika dikombinasikan dengan baik dengan kromium atau molibdenum, tungsten akan membuat baja menjadi baja tahan panas (high Speed Steel). Baja M2 memiliki jumlah tungsten yang tinggi. Unsur ini merupakan pembuat struktur karbida terkuat setelah vanadium.

Vanadium: Berkontribusi untuk ketahanan aus dan pengerasan, dan sebagai pembuat karbida. Unsur ini memurnikan butiran baja, dan memberikan kontribusi untuk ketangguhan baja dan memungkinkan pisau untuk diasah sampai sangat tajam. Beberapa baja memiliki vanadium. khusus untuk M2, Vascowear, dan CPM T440V dan 420V (dalam urutan meningkatnya jumlah) memiliki kandungan Vanadium yang tinggi. Perbedaan terbesar antara baja BG-42 dengan ATS-34 adalah kandungan vanadium.

KERAMIK
Bahan ini bukan Baja, dan tidak mengandung besi sedikitpun. Biasanya bahan keramik yang digunakan sebagai pisau adalah Zirconium Oxide (ZrO2), kadang-kadang juga disebut Zirconia. Kekerasan bahan ini sangat tinggi hingga mencapai angka 8.5 di skala Mochs berbanding dengan baja yang hanya mencapai sekitar 6 sampai 6.5 di skala Mochs. Karena kekerasannya, pisau jenis ini sangat jarang perlu untuk diasah, dan untuk mengasahnya diperlukan asahan yang mengandung serbuk intan.


OBSIDIAN
Obsidian juga bukan baja, dan adalah jenis bebatuan yang mempunyai kandungan silica yang tinggi. Batu jenis ini cukup keras dan getas, sehingga ketika pecah, akan menjadi tajam. Bebatuan ini pada jaman pra-sejarah digunakan sebagai bahan pisau/tombak.

Metode yang digunakan dalam membentuk bilah pisau/tombak dari bebatuan disebut "knapping".


Sumber 
http://www.kaskus.co.id/post/50d40e0f017608c66f000007#post50d40e0f017608c66f000007
credit to : agan jarumberputar

Pemodelan Sistem Dinamik

Definisi pemodelan sistem dinamik menurut Bambang Sridadi(2009)

  • Model adalah suatu representasi atau formalisasi dalam bahasa tertentu dari suatu sistem nyata (realitas)
  • Model berisi informasi tentang suatu sistem yang dibuat dengan tujuan untuk mempelajari perilaku sistem yang sebenarnya
  • Model dapat berupa tiruan dari suatubenda, sistem atau peristiwa sesungguhnya yang hanya mengandung informasi yang dipandang penting untuk ditelaah
Tujuan pemodelan sistem: research and management







Pemodelan suatu proses:
•  Input (masukan)
•  Sistem (sistem kendali)
•  Output (keluaran)

Klasifikasi model matematik sistem meliputi :
  • Model linear dan non-linear
Model linear adalah model yang memenuhi prinsip superposisi dan homogenitas. Superposisi: total respon (keluaran/output) suatu sistem terhadap masukan-masukannya (inputs) sama dengan penjumlahan masing-masing keluaran terhadap masing-masing masukannya. Homogenitas: perkalian nilai masukan dengan suatu bilangan skalar akan menghasilkan keluaran yang besarnya sama dengan perkalian bilangan skalar tersebut dengan keluaran awalnya.
Model non-linear adalah yang tidak memenuhi kedua sifat tersebut
  • Model diskrit dan kontinu
Model diskrit: nilai masukan, keluaran dan variabel sistem berubah secara diskrit (dalam interval waktu tertentu).
Model kontinu: nilai masukan, keluaran dan variabel sistem berubah secara terus menerus(kontinu)
  • Model dinamik dan statik
Model dinamik: keluaran sistem bergantung pada nilai inputan sebelumnya. 
Model statik: keluaran sistem tidak bergantung pada nilai inputan sebelumnya

  • Model stokastik dan determinsitik
  • dll